TRAVEL CANTIK DI TANA TORAJA

Satu lagi gan cerita backpack saya di Tanah Sulawesi. The most WANTED destination di Sulawesi Selatan, yup… TORAJA aka TANA TORAJA. Kali ini saya ditemani sama dua orang pemuda asal New Zealand (baca : BULE). Saya menyebutnya Dave Young dan Will Kerr. (sudah nama asli mereke kaleee). Trip ngebackpack ke Toraja itu dimulai dari rumah plus tanah kelahiran saya, yaah kampong saya yang namanya Watampone, Bone, Kab. Bone Sul_sel . G’ familiar sih, bolehlah cek di google map LOL. 


 Pagi- pagi sekitaran jam 8 WITA, berangkatlah saya dan 2 laki’ ini ke Toraja. Ngabisin waktu sampe siang di mobil angkutan , pake transit (ceilah) di kota luwu , PAlopo untuk nyari mobil ke Toraja. Nagh, kebetulan Emak’ guwa tinggalnya di Palopo yaah mampirlah kita makan siang disana. Sejam di rumah beliau, saya lanjut lagi nyari mobil ke Toraja. Pas dapat di persimpangan yang g’ tau nama jalannya, dapatlah kita tumpangan. Yay* sekitar pukul 7 malam hawa sejuk, hiru pikuk nyala kendaraan, tongkonan yang hampir di tiap sudut jalan menyapa kami. WELCOME TO TORAJA. Turun dari mobil langsung kami diskusi dulu mau kemana nginap dimana dan makan dimana. Tadinya mau nyari temen yang berdomisili disana, tapi karena kecapean seharian di mobil. Akhirnya kami putuskan nyari penginapan dulu. Tentunya yang nyaman, dan murah meriah (nggak pake Mencret). :P

 Didapatlah Wisma sekitaran kota Rantepao (maaf gan, lupa namanya). Masuk ke ruang recepsionist.. saya selaku cewe’ lokal yang notabennya fasih berbahasa Indonesia, saya lah yang bernego-ngoan sama mba’nya. Tarif semalam disana bervariatif, mulai dari 80K/nite sampai 300K/nite. Itu tergantung dari banyaknya bed berapa orang yang mau nginap. Karena saya bertiga, maka saya ngambilnya room yang 3 bed untuk 3 orang yang letaknya di lantai 2 paling depan no.sekian sekian. Si mba’ recepsionist ngasih 150K/malam, jadi kena lebih murah. Kami putuskan booked semalam, karena planningnya untuk dua hari kedepan ada temen yang mau ngasih tempat nginap. 

So, let’s get put the damn bags off .!!!! 

our room

Get shower then looked for late-dinner. Suasana malam hari di Toraja agak ramai dan dingin pastinya. Kami ke warung nasi campur yang g’ jauh dari penginapan. Makan malam sambil bincang-bincang mengenai trip besok untuk explore si Tana Toraja ini. Keesokan paginya, di teras kamar sudah ada tuh kopi yang nungguin dari tadi pagi. Si Dave yang bangunnya lebih cepat, sudah rapi dan sudah hampir segelas kopinya habis nyambi baca buku LONELY PLANET. 


 Bergegas saya dan Will nimbrung ngopi Khas Toraja dulu.Cuacanya cerah bener, hirup udara pagi nya si Tana Toraja ini 11-12 dengan status cuaca “HANGAT” di New Zealand. Itu katanya si Dave. Sambil ngopi, dengerin lagu Maroon 5 , sekali-kali nyanyi bareng, buka lonely planet, dan putusin destinasi trip hari ini. AND………………. KETE KESU, LEMO, dan LONDA menjadi incaran kami bertiga.

 Walking down untuk nyari motor. Ya memang lebih seru sewa scooter kalo mau nikmatin panorama di kampung orang lain. Ada 3 tempat yang kami dapat untuk nyewa motor. Pertama, di wisma Maria , kebetulan motornya si doi lagi disewa semua. Nyari tempat lain akhirnya ketemu pas depannya wisma Maria, motornya ada, kuncinya kaga’ ada. (gimana ceritanya tuh bang). Dan yang terakhir, nemu dekat lapangan. Sewa perhari 70K, kami putuskan untuk sewa 2 matic. Saya boncengan sama si Dave dan tentunya si Will sendirian. Brrrrrrrrrruumm bruuuuuuumm…cek sound gan…pollin bensin, bareng-bareng pake sun blocknya Dave and Let’s ROCK guys…

 Sekitar sejam naik scooter, tibalah kami di KETE KEsu’ (modal Tanya-tanya dan lonely planet, app di hp juga). Nih tempat bisa dibilang iconnya Tana Toraja. cukup bayar 10ribu rupiah, bisa nikmatin banyak view disana mulai dari deretan rumah Tongkonan yang berdiri cantik, gunung nan sawah yang WOW sadap dipandang. Yang bikin tambah senang saya, pas saat di loket beli tiket masuk.

 Si Penjaganya bilang :” mba,guide, tidak usah bayar” Dalam hati “wah, dikira guide, orang baru pertama kesini, tapi boleh juga itung-itung gretong cwiiiiiin” haha Sekitar 3 jam-an disana, poto-poto udah, liat souvenir udah, bincang sama orang lokal sudah, dan kebetulan ketemu dengan bule-bule cantik dari tiga Negara yang berbeda. 

Saling kenalan dan buat planning untuk hadirin acara the most spiritual event in Toraja yaitu FUNERAL ceremony . Dan janjian tempat dan waktu pun dibuat. And then say bye kembali ke kelompok masing-masing.

with Dave

Tulang belulang di Kete Kesu

Jejeran Tongkonan di Kete Kesu

Click ! With Will

Next destination ialah Lemo. Sebelum berangkat kesana, kami mampir dulu ngisi perut. Kita mampir disalah satu warung yang tempatnya lumayan bagus, menunya juga terpampang lezat di depan warung orang Jawa ini. Di toraja, makanan disana cukup variatif dan terjangkau. Jadi para agan tidak usah khawatir kalo pengen kulineran disini. 

Tiba di Lemo, pakE nyasar dikit hehe, ketemu lagi loket tiket buat masuk. Nah, pengalaman kete kesu’, saya pakailah modus alih-alih GUIDE WANNA BE. Dan ternyata berhasil, hahaa gretongan lagi kite masuknya. Disitu semakin sadar saya, kalo agan-agan backpack sama Bule-bule’, yah salah satu tips untuk tidak bayar tiket masuk ditempat wisata, yaaaa ngaku aja jadi GUIDE ahaha. Back to LEmo. 

LEMO salah satu tempat yang cukup menarik juga untuk dikunjungi. Disebut Lemo, karena pekuburan batu utama memiliki dinding yang berkerut-kerut seperti kulit jeruk atau lemo dalam bahasa setempat. Lemo paling identik dengan pemandangan sawah, gunung dan tebing tebing yang sangat cantik. G’ sembarang tebing loh, tebingnya berlubang. Diperkirakan ada sekitar 75 buah lubang batu kuno di tempat ini. Di dalam lubang-lubang batu tersebut juga ditemui patung-patung dari mereka yang sudah meninggal dan dimakamkan di sini (tau-tau). Sengaja dipahat oleh penduduk setempat untuk naruh Mayat2 sang pendahulu. Motto nya orang toraja kan gitu, The highest u put your body, the easiest u reach heaven”.. (seperti itulah kira-kira) :D 

Tebing di Lemo

Lunchie with this guys

next to tau tau

Ngadem Sebentar

Betah ngadem berapa jam pun ditempat ini. Asli sejuk, pemandangan yang sangat cantik. Tenang , ,dan nyaman buat orang yang kecapean naek motor seharian. Haha Sore harinya sebelum petang, lanjut lagi ke Londa. Londa itu gua makam paling populer di Toraja. Sebelum masuk ke sana, yaaaah harus beli tiket dulu. Lagi lagi gratis masuknya. Ngaku guide lagi hahaha. Keren g’ tuh wkwkw. Habis dari sana, kami balik ke penginapan buat istirahat sejenak, mandi terus kulineran lagi dan shoppingan. lapak-lapak khas Toraja juga sangat beragam disini, mulai dari penganan, assesori, miniatur tongkonan, dan banyak lainnya. 

pleasure Smokers

side of Londa

Keesokan harinya, pagi –pagi udah rapi, pake backpacknya Si Dave, sun glasses, camera sudah ready to use. Janjian sama bule-bule cewe’ kemarin buat hadirin Funeral ceremony di salah satu kampung terpencil. Cukup jauh namanya ,Sangata kalo ng’ salah. Kali ini kami di guide beneran sama orang lokal, lelaki separuh baya. Si doi’ itu actually guidenya si club cewe-cewe bule ini. He was hired for several days. jadi Rame tentunya, yupp… 6 pelancong yang berasal dari Negara berbeda. 


Jalan barengan ma mereka-mereka kereenya minta ampuun. SERIUS !! guwa list ya… cewe dari England, Lithuania, French, SI Dave and Will dari New Zealand, and last but not least, ME . the Asian ! *nyengir  

Perjalanan ke desa tempat Ceremony itu cukup jauh, kami banyak berbincang dengan pa’ guide itu. Mulai dari tata cara bertamu,berpakaian, sampai pantangan-pantangan yang harus diperhatikan pada saat acara berlangsung. Sebelumnya, kami dianjurkan membawa semacam gift untuk dikasih ke keluarga yang adain acara. Rokok salah satunya. Jadi, dari 6 orang, kami membeli 2 pack rokok untuk dibawa ke ceremony. Itu katanya, simbolik saja sih sebagai bentuk belasungkawa kami. Setibanya di tempat pemakaman, ratusan orang sudah ada ditempat, ramai banget dan cukup besar perayaannya. Pakaian adat khas toraja, ornamen-ornamen disetiap sudut bangunan rumah dipermak abis dengan warna-warna yang khas toraja banget. G’ hanya itu, disana kami langsung dikasih satu tempat untuk duduk sambil menunggu jamuan. Orang-orangnya ramah-ramah. 

Acara funeral ini cukup berlangsung lama. Rambu solo namanya. Selama acara berlangsung, yang terdengar cuman Musik suling, nyanyian, lagu dan puisi, tangisan dan ratapan merupakan ekspresi duka cita. Eits ada juga suara hewan untuk disembeli. Babi dan tedong (tedong itu sebutan kebo’nya orang toraja yang harganya g’ kalah ama satu rumah real estate hehe saking mahalnya booo) Konon katanya, Semakin berkuasa seseorang maka semakin banyak kerbau yang disembelih. Penyembelihan dilakukan dengan menggunakan golok, bukan daon. :P 

Suku Toraja percaya bahwa arwah membutuhkan kerbau untuk melakukan perjalanannya dan akan lebih cepat sampai di Puya (akhirat) jika ada banyak kerbau. Penyembelihan puluhan kerbau dan ratusan babi merupakan puncak upacara pemakaman yang diringi musik dan tarian para pemuda yang menangkap darah yang muncrat dengan bambu panjang. Sebagian daging tersebut diberikan kepada para tamu dan dicatat karena hal itu akan dianggap sebagai utang pada keluarga almarhum.

mayatnya di goyong

here we are :)

Babi-babi yang siap disembelih

Tedongnya dikuliti :(

BURNED

Tidak terasa upacara sudah kelar. Saatnya berpamitan. Karena kebetulan, mobil yang tadi ditumpangi sudah pulang, mau tidak mau.. harus nyari tumpangan lain. Jalan lah kita beramai-ramai di bawah sengatan matahari. Sekitar 15 menit jalan, eh ada truk kosong yang melintas. Kami minta untuk dikasih tumpangan, dan yup.. hitchikenya berhasil. Truk itu tadinya muatin kebo’, sekarang berubah gan jadi bule-bule wkwkw. Persinggahan terakhir kami adalah baby grave. Penasaran dengan kuburan bayi yang ditanam di dalam pohon. Sedikit ngeri, tapi penasaran dibuatnya. katanya si guide, bayi yang ditanam di dalam pohon itu hanya bayi yang giginya belum sempat tumbuh. Baru bisa dimakamkan. Itu semua tergantung dari keluarganya si bayi masing-masing. Bayi-bayi yang disimpan dalam pohon itu , dianggap sebagi little angel alias malaikat/bidadari kecil. Sedikit miris liatnya, tapi yaaahh sangat terpukau. 

on truck

Jelajahin Tana Toraja tidak ada habi-habisnya gan. Kagum dengan alamnya, kepercayaanya, penduduknya, dan tentunya tradisi budayanya. G’ salah orang-orang dari seluruh belahan dunia bela-belain kesana untuk touchdown langsung dengan ke WOWsome-an si Tana Toraja.

 

 

 Damn ! I am so proud being in the same MAP with Toraja- Sepakat ???

Saskia

About Saskia Rajayani

I consider myself as an honest person and if I have a dream I do whatever is possible to achieve it. I'm very friendly, enthusiastic,cheerful, lively, and simple person. I love having a good time, laughing, reading novels, having coffee, cycling and doing goofy things whenever I can. I enjoy every little things in my life, such as Wearing my muddy boots,looking at the pop-corns clouds,eating my Scorched omelet,Let my hands full of scrawl-notes and yeap I'm proud being Me ;)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes:

<a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>